Imlek Bersanding di Bulan Ramadan Wujud Keberagaman

Garut, duaempat.com – Perpaduan suasana Tahun Baru Imlek 2577 dan bulan suci Ramadan 1447 Hijriah menghadirkan nuansa berbeda di Ballroom Hotel Harmoni Garut, Sabtu (28/2/2026). Momentum kebersamaan itu menjadi ruang refleksi tentang pentingnya toleransi sekaligus optimisme membangun daerah.

Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, yang hadir dalam acara Harmoni Ramadhan dalam Balutan Toleransi dan Kebersamaan, menilai pertemuan dua momentum keagamaan tersebut sebagai simbol indahnya keberagaman.

Ia mengingatkan bahwa Indonesia adalah bangsa yang majemuk. Karena itu, menurutnya, mencari-cari perbedaan tidak akan pernah menghasilkan titik temu. Di situlah Pancasila menjadi fondasi bersama dalam menjaga persatuan.

Di tengah kondisi global yang diwarnai berbagai konflik, ia mengajak masyarakat Garut untuk mensyukuri situasi daerah yang tetap aman dan kondusif.

“Dan ini bisa kita mulai dengan saling memberikan apa yang kita miliki kepada orang lain dan juga sebaliknya,” ujarnya.

Selain pesan toleransi, Bupati juga memaparkan kondisi ekonomi daerah. Ia menyebutkan bahwa Kabupaten Garut mencatatkan peningkatan laju pertumbuhan ekonomi yang menjadi capaian terbaik dalam 10 tahun terakhir, meski tantangan kemiskinan masih ada.

Untuk menjaga tren tersebut, pemerintah daerah tengah mendorong hilirisasi di sektor pertanian agar nilai tambah produk lokal semakin meningkat.

“Oleh karena itu saya mohon bantuannya, bapak ibu semua untuk bersama-sama memiliki komitmen untuk memajukan Garut yang maju dan hebat. Satu modal utamanya adalah keamanan, ketertiban, dan kedamaian,” katanya.

Sementara itu, inisiator acara, Agustine Merdekawati, menyampaikan bahwa pertemuan Imlek dan Ramadan tahun ini menghadirkan harmoni budaya dan agama yang jarang terjadi.

“Sehingga menciptakan harmoni budaya dan agama yang jarang terjadi, di mana fenomena langka ini menekankan toleransi, di mana dekorasi Imlek bersanding dengan suasana Ramadan yang melambangkan keindahan dalam kebhinekaan,” jelasnya.

Ia menegaskan toleransi bukanlah mencampuradukkan keyakinan, melainkan saling memahami agar bisa hidup berdampingan secara damai.

“Semoga melalui acara pada sore hari ini, kita semakin dieratkan tali silaturahmi di antara umat beragama, kita jadikan perbedaan ini sebagai pelangi yang mempercantik cakrawala Indonesia,” pungkasnya. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *